Tersesat dalam Ketenaran di The Greatest Showman

IMO, film yang bagus adalah yang berkesan lama setelah ditonton. Kemarin akhirnya sempet juga nonton film di bioskop. Dan memilih The Greatest Showman sebagai film pertama yang ditonton di tahun ini adalah pilihan yang sangat tepat. Film “The Greatest Showman” terinspirasi dari kisah nyata P. T Barnum, pendiri Barnum & Bailey Circus.

The Greatest Showman bercerita tentang P. T Barnum yang merupakan anak seorang penjahit yang bekerja untuk keluarga Hallet. Suatu hari Barnum muda bercanda dengan anak gadis keluarga Hallet, Charity. Hal itu membuat Tuan Hallet marah, lalu beliau menampar Barnum dan melarangnya bertemu dengan anaknya lagi. Mereka lalu bertemu di luar, Charity bercerita bahwa dia dikirim ke sekolah asrama. Barnum meyakinkan mereka tidak akan berpisah. Mereka tetap berkomunikasi melalui surat. Bertahun-tahun kemudian mereka akhirnya menikah dan hidup sederhana. Charity merasa cukup bahagia, Barnum memimpikan yang lebih.

Suatu hari Barnum diberhentikan dari kerjaan karena kantornya bangkrut. Dia pulang dengan lesu, tetapi sampai rumah disambut hangat oleh istri dan anak-anaknya. Dia tidak menyerah begitu saja. Akhirnya dengan segala resiko yang mungkin terjadi, dia meminjam uang di bank lalu membeli sebuah bangunan dan dijadikannya museum. Merasa masih kurang puas dengan itu, suatu hari dia mendapat ide dari anak-anaknya untuk menciptakan sebuah atraksi yang waw. Dia mulai mengupulkan orang-orang yang ‘unik’. Atraksi demi atraksi dilakukan dan akhirnya berhasil membuat banyak orang untuk datang ke show-nya.

Belum puas sampai di situ, dia mengajak Phillip Carlyle untuk bergabung dengannya. Dia mengincar audiens dari kelas menengah ke atas dan dia merasa Carlyle bisa membantunya untuk itu. Carlyle mengatur pertemuan dengan Ratu Victoria. Di sana Barnum tertarik dan akhirnya minta dikenalkan dengan Jenny Lind, penyanyi dengan bakat yang mengagumkan. Barnum akhirnya berhasil mengajak Lind untuk bergabung dengannya.

Masih belum puas dengan ketenaran yang sudah didapat dari atraksinya dengan ‘orang-orang unik’, dia ingin membuat tur keliling kota bersama Jenny Lind. Barnum semakin terkenal dan mulai terlena dalam kepopuleran yang sedang dia dapatkan. Dia mulai lebh fokus pada turnya dengan Jenny Lind dan sedikit melupakan orang-orang di museumnya.

Satu kalimat dari film yang terus nancep di pikiranku adalah “You don’t need everyone to like you, you just need some good people”. Indeed. Melihat bagaimana akhirnya siapa yang terus di sampingnya bahkan ketika Barnum tidak punya apa-apa lagi itu benar-benar real rasanya di kehiduan sehari-hari. Kadang kita lebih suka dikelilingi banyak orang lalu melupakan siapa yang benar-benar ada dan siap menolong kita saat kita terjatuh.

Aku pun jadi menyadari memang kualitas itu lebih penting daripada kuantitas. Teman yang banyak bukan berarti punya banyak pegangan agar tidak jatuh terlalu sakit. Sebegitu pentingnya menjaga pertemanan dengan mereka yang sebenar-benarnya seorang teman. Setelah pulang menonton film ini rasanya aku ingin memeluk teman-temanku satu persatu.

The Greatest Showman sungguh bagus bangeeeet. Apalagi bagian musikalnya. Mungkin untuk orang yang tidak suka drama musikal akan kurang suka karena sepanjang film banyak nyanyian sebagai deliver percakapannya. Benar-benar well spending di awal tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *