Skripsi Pasti Berlalu

Skripsi Pasti Berlalu

Di awal tahun ini aku belajar bahwa ada batasan yang bisa ditembus untuk mendapatkan sesuatu. Syaratnya hanya terus berusaha atau nggak sama sekali.

S K R I P S I

Aku yakin hal ini menjadi momok banyak orang. Apalagi untuk mahasiswa yang seperti aku, telat lulus. Sewaktu temen-temen lain yang seangkatan udah banyak yang lulus dan cabut dari Jogja untuk menjalani tahap kehidupan yang selanjutnya, aku masih di kampus berkutat dengan draft, revisi, bimbingan, dan teror dosen pembimbing. Rasanya tuh, hhhh susah dijelaskan dengan kata-kata. Diri sendiri mencoba tenang, mencoba terlihat nggak tertekan. Tapi ya sebenernya mulai panik juga merasa dikejar waktu. Apalagi pas dapet kesempatan untuk belajar hal lain yang aku sukai, aduh itu sungguh godaan niat menyelesaikan skripsi.

Tiap malem tidur nggak nyenyak. Aku jarang bisa tidur di bawah jam 12 karena harus merevisi draft, berusaha semaksimal mungkin meminimalisir kesalahan supaya cepat diacc. Tiap pagi bangun dengan perasaan yang entah. Malas tapi harus berangkat demi cepat selesai. Sungguh skripsi itu adalah kompetisi melawan kemalasan diri sendiri.

Berkali-kali ingin menyerah, kabur tanpa menyelesaikan skripsi. Apalagi tiap udah revisi draft, udah belajar materi yang baru dipelajarin dikit udah nyut-nyutan, eh tetep aja dibilang salah. Merasa down berkali-kali. Merasa nggak mau belajar lagi, nggak mau usaha lagi. Merasa nggak sanggup menyelesaikan skripsi.

Sampai suatu hari, aku sambat ke temenku yang udah lulus. Dia bilang,”Dit, dosenku pernah bilang kalau skripsi aja kamu nggak bisa menyelesaikan, gimana nanti kamu kerja? Tugasnya semakin banyak dan tanggung jawabnya lebih berat lho. Si x bisa lulus, si y bisa lulus. Logikanya kamu juga bisa. Mereka tuh mageran juga lho, nyatanya bisa sampai lulus. Kamu tuh bisa”.

Wah. Lalu ya aku tersadar. Iya, mungkin aku punya limit, otakku punya batasan seberapa kuat dia diajak menyelesaikan skripsi. Tapi batasan ini bisa ditembus kan? Aku pasti bisa memperlebar batasan ini. Aku harus keluar dari zona nyamanku demi cepat menyelesaikan skripsi. Menunda menyelesaikan skripsi sama dengan menolak tawaran kesempatan yang lebih bagus untuk masa depan. Dan keluar dari zona nyaman tuh sesuatu yang bisa dilakukan kan?

Jadi begitulah aku 5 bulan terakhir ini, mendorong diriku lebih jauh. Mencoba untuk menembus limitku sendiri. Mencoba membaca lebih banyak, bangun lebih pagi, dan lebih banyak bersabar. Ketika mulai kendor semangatnya, aku selalu bilang ke diri sendiri,”Sebentar lagi. Ayo sebentar lagi selesai”. Hmmm prosesnya cukup membuat nyut-nyutan setiap hari dan jadi lebih gampang kumat alerginya. Ambyar! Tapi gas terus. Bimbingan, dimarahin, belajar, revisi draft, bimbingan lagi, revisi lagi…

Sampai akhirnya…

21 April 2018 resmi dinyatakan lulus dengan gelar Sarjana Teknik. Aku bangga dengan diriku sendiri. Aku sangat berterima kasih pada diri sendiri karena nggak menyerah. Rasanya terharu, ketika semuanya akhirnya selesai. Ternyata aku bisa menembus limitku sendiri. Aku juga berterima kasih kepada teman-temanku karena supportnya selama ini nggak habis habis, juga untuk keluargaku karena diam-diam selalu mendoakan supaya cepat selesai.

 

Untuk teman-teman yang juga sedang berjuang menyelesaikan skripsi, merasa mau menyerah juga? Hei, kamu sudah mendekati garis finish. Percayalah kamu pasti bisa! Semua pasti akan terlewati, kamu cuma harus terus berusaha! Kadang kamu pasti menemui suatu hal yang rasanya nggak mungkin diselesaikan, rasanya membebani banget. Tapi nggak ada yang nggak bisa dilewati. Terus berusaha, jaga kesehatan, dan jangan lupa sekali-kali refreshing! It helps! Dan jangan merasa bersalah ketika kamu rehat sebentar dari skripsimu.

 

Skripsi adalah kompetisi melawan kemalasan diri sendiri. Usahakan kamu yang akan menang dan skripsi pasti berlalu

 

IMG-20180430-WA0015

6 comments found

  1. Selamat atas kelulusannya mbak Andita. Saya setuju banget sama kata-kata “Sungguh skripsi itu adalah kompetisi melawan kemalasan diri sendiri.” Karena saya juga ngalamin sendiri rasanya males ngeskripsi karena dosen yang nggak terlalu welcome..

  2. Terima kasih mbak! Alhamdulillah kita akhirnya bisa menyelesaikannya juga ya walaupun pake ngesot ngesot :”) semangat juga buat kamu ya! Semoga dilancarkan rejekinya 🙂

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.