Slice of Life

Seorang Ayah di Pernikahan Putrinya

Seumur-umur baru pertama kali itu aku ditanya dengan sungguh-sungguh oleh ayahku, kapan rencananya aku menikah. Mau dijawab bercanda kok nanyanya serius sekali, kayaknya memang bukan waktunya bercanda. Lalu aku jawab saja dengan perkiraan berapa tahun lagi, yang entah kenyataannya akan terjadi sebelum perkiraan itu atau lebih lama dari itu.

Lalu aku balik nanya ke ayahku, kenapa kok tumben tumbennya nanya begitu. Soalnya memang baru kali itu aja ditanya seserius itu tentang pernikahan. Biasanya ya, siapa pacarku saja beliau nggak peduli. Beliau menjawab, intinya ayah sebagai orang tua juga mau siap-siap untuk masalah anggaran juga mental. Waw. Aku nggak menyangka akhirnya aku tiba juga di masa ini.

Menurutku, salah satu momen mengharukan adalah ketika seorang ayah menikahkan anak perempuannya.

Kebanyakan ayah adalah sosok seseorang yang jarang menunjukkan emosinya, terutama emosi kesedihannya. Pernah nggak sih kamu (hei para anak permempuan di seluruh dunia) kepikiran bagaimana sesungguhnya perasaan sedih yang dirasakan seorang ayah saat itu? Apa yang sebenarnya beliau rasakan saat ada seorang lelaki yang mencintaimu dan kamu cintai datang ke rumah untuk memintamu?

Di hari menjelang pernikahanmu, bisa jadi itu adalah momen emosional bagi seorang ayah. Melihat putrinya sibuk mengurus gedung pernikahan, catering, urusan undangan, seragam keluarga, pertemuan dengan kedua keluarga, membahas ini dan itu, semakin menunjukkan bahwa pernikahan putrinya itu nyata adanya.

Di hari pernikahan. Semua orang sibuk, semua orang bersiap pagi-pagi sekali. Mungkin saja ayahmu mulai cemas, mulai grogi, mulai tak karuan rasanya. Detik-detik menjelang ijab kabul. Antara bahagia melihat putrinya akhirnya bisa menikah dengan lelaki pilihannya dan sedih karena harus merelakan putrinya jadi milik lelaki lain.

Dan akhirnya dengan mata berkaca-kaca yang dijaga supaya tidak jatuh dan suara tertahan “Saya nikahkan putri saya yang bernama……” lalu putrinya pun menjadi tanggung jawab orang lain.

Entah bagaimana tepatnya perasaan seorang ayah pada hari itu, yang pasti melihat senyum putrinya setelah itu pasti bahagia.

Pernah suatu hari dengan sangat random aku kepikiran akan seperti apa ekspresi ayahku ketika nantinya aku menikah.
Apakah beliau akan merasa sangat sedih? Mungkin iya. Walaupun berusaha untuk tidak ketahuan. Semoga saat waktu itu datang, aku bisa mengalahkan gengsi untuk memeluknya.

Karena kalau dihitung secara kasar, kurang dari setengah kali umurku saat ini, itu adalah jumlah waktu yang dihabiskan bersama aku dan ayahku karena pekerjaan ayahku yang mengharuskan kita untuk tinggal berbeda pulau. Segitu saja. Kebayang nggak sih bagaimana lebih susahnya merelakan anak perempuannya yang tidak banyak menghabiskan waktu dengannya untuk menjadi tanggung jawab orang lain Maksudku ya yang masih tinggal serumah bersama ayahnya saja pasti sedih merelakan anak perempuannya, apalagi yang kondisinya seperti aku dan ayahku. Apalagi setelah ijab kabul yang berarti sebagai seorang istri, aku harus mengikuti tinggal di mana suamiku bekerja dan itu bisa berarti lebih jauh dan lebih jarang bertemu lagi dengan ayah.

Menurutku momen pernikahan itu lebih banyak sedihnya daripada kebahagiaannya. Eh entah sedih atau haru namanya. Pokoknya beberapa kali aku menyaksikan akad nikah sepupu-sepupuku, di semua waktu itu lah aku ikut menangis haru. itu baru orang lain yang menikah, bukan aku. Akan seperti apa sewaktu aku yang akhirnya tiba di waktu itu, sekali lagi aku berdoa “Semoga saat itu aku dan ayah bisa membuang gengsi dan berpelukan”.

Ternyata memang untuk melangkahkan kaki ke tahap yang lebih jauh dalam hidup itu ada yang perlu dikorbankan.

Kamu yang sudah melewati masa ijab kabul, seberapa mengharukannya hari itu? :”)

Luv,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *