Slice of Life

Refleksi di Hari Ibu, Selamat Hari Ibu!

Sebagai anak yang terlatih mandiri sejak dini, aku tetaplah seorang anak yang mewek kalau kangen ibunya. Biasanya di hari ibu, terlewati biasa aja tanpa kado. Tapi masih bisa disampaikan sebuah ucapan, peluk, dan cium sebelum berangkat kuliah. Sekarang ketika berjarak, memang kerasa semuanya berbeda tanpa ibu.

Kalau ada ibu, kehidupan rumah jelas lebih teratur. Lupa pasang alarm tetap bisa bangun pagi. Buru-buru berangkat tetap bisa bawa bekal karena ada yang menyiapkan. Kalau sakit, bisa manja-manja minta disuapin dan ditungguin sampai sehat. Sekarang semua diurus sendiri sejak tinggal berdua aja sama adik. Aku lah yang jadi ibu, yang memastikan bahan makanan di rumah cukup, yang belanja, yang memasak, yang beberes rumah, yang bangunin adik buat berangkat kuliah. Tapi lah tetap kurang lengkap rasanya.

Tadi pagi sudah sempat coba telfon ibu, tapi nggak diangkat. Ternyata lagi sibuk di rumah tetangga. Semakin dewasa ini, semakin sibuk, eh malah pas jauh dari orang tua juga. Ada satu hal yang ingin aku ubah dari hubunganku dengan ibuku, juga dengan ayah:

Lebih rajin telfon atau sekedar tanya lagi apa

Pernah dengar dan baca dari pengalaman orang lain, kalau sebenarnya orang tua itu seneng banget kalau dikabarin sama anaknya sesering mungkin. Apalagi yang nggak tinggal sedaerah. Tapi kadang kita atau aku ya sok sibuk banget dan merasa malas telfon atau chat buat basa-basi. Padahal mungkin jauh di sana ibuku khawatir ya sama anaknya ini. Cuma pengen tau kabarnya gimana, makannya teratur nggak, sehat nggak, udah selamat sampai rumah belum.

Sering banget ibuku yang banyak kirim-kirim chat atau selalu nanya hal yang sama di jam-jam tertentu. Misal udah pulang belum, udah makan belum. Kadang aku males balesnya, tapi ya gimana, kalau nggak tanya memang nggak tau ya orang nggak tinggal serumah. Jadi walaupun mood lagi nggak pengen ngobrol, sekarang coba tetep membalas dengan ikhlas, supaya mereka nggak khawatir terus-terusan.

Untuk urusan telfon, aku akui memang jarang banget nelfon duluan. Bahkan lebih sering telfon dan ngobrol sama pacar daripada sama ibu. Sekalinya aku inisiatif telfon duluan buat ngobrol aja gitu, ibuku malah selalu kaget. Dikira ada apa-apa saking jarangnya nelfon duluan. Haduh sampai sebegitunya. Kan jadi makin merasa bersalah ya :”)

Itulah refleksi dan jadi PR ku di hari Ibu ini. Semoga kedepannya bisa lebih bisa menunjukkan rasa sayang dan peduli ke orang tua (biasanya gengsi abis hahaha).

Selamat hari Ibu, Ibuku sayang.

Juga selamat hari Ibu untuk semua ibu hebat di dunia ini!

Luv,

3 Comments

  • Reyne Raea (Rey)

    Saya rasa, meskipun banyak yang akhirnya salah memaknai hari ini, tapi ternyata dampaknya luar biasa.
    Hari ini banyak banget anak2 yang jadi lebih peduli ke ibunya.
    Yang mungkin benci ibunya jadi tergerak untuk memikirkan ibu dan memikirkan cara memaafkannya.
    Yang kadang lupa pada ibunya juga begitu.
    Semoga, hari ibu gak hanya diperingati setahun sekali, akrena hari ibu sesungguhnya adalah setiap tanggal 22 Desember – 21 Desember 🙂

    Semoga ibunya sehat selalu yaaa 🙂

    • Andita

      Iyaaa mbak, setuju. Hari ibu dan hari ayah adalah setiap hari 😀
      Terima kasih mbakk, selamat hari ibu ya 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *