Slice of Life

Pengalaman Tinggal Berpindah-Pindah

Ayahku adalah orang yang bekerja mengikuti di mana proyeknya berada. Karena itu, sewaktu kecil aku tinggal berpindah-pindah kota. Berpindah-pindah kota begitu menurutku keren dan menyedihkan di satu waktu. Keren karena sejak kecil udah merasakan tinggal dengan tempat dan budaya yang berbeda-beda. Dan menyedihkan karena nggak punya temen masa kecil.

Jadi kehidupanku berawal dari salah satu pulau di Kepulauan Riau, yang katanya terkenal dengan barang impornya yang murah.

Batam

Aku lahir di Batam sekian puluh tahun yang lalu. Waktu itu ayah dan ibuku sedang bekerja dan tinggal di sana setelah menikah. Bisa lah ya aku disebut anak daerah karena lahir di sana. Tapi ya sebenarnya gitu, aku cuma numpang lahir aja. Di umur 1 tahun lebih sekian, ayahku mendapat proyek kerjaan di salah satu kota di Jawa Timur. Ya itu adalah pengalaman pertama pindahan rumah, yang pastinya aku belum bisa mengingat apapun hehehe

Malang

Kota kedua yang sempat aku tinggali semasa kecil adalah kota Malang. Nggak heran waktu ke Malang lagi pas udah SMA, rasanya kok nggak asing, seperti pulang ke rumah sendiri. Aku dan keluargaku tinggal di kota Malang cukup lama, 3 tahun. Sewaktu tinggal di sini, aku sudah bisa mengingat beberapa kejadian, walaupun samar.

Kota ini adalah kota kelahiran adikku. Iya, di tahun kedua tinggal di kota ini, adikku lahir. Keluargaku bertambah 1, masa kecilku di rumah semakin ramai. Aku ingat aku punya beberapa tetangga yang juga punya anak kecil, tapi aku nggak ingat siapa saja namanya, dan bagaimana sekarang kabarnya.

Aku ingat pernah ke Taman Safari Prigen dan Kebun Buah Selecta sewaktu adikku sudah lahir. Waktu itu kita ke sana rame-rame dengan mbah Uti dan om tante ku juga. Hehehe yang ini aku bisa mengingat denga bantuan album foto.

Waktu ke Malang beberapa tahun lalu

Setiap kali ke Malang lagi untuk liburan, ayah dan ibuku selalu mengajak untuk makan makanan yang dulu menjadi favorit mereka di sana. Ada gado-gado rengah pasar, mie ayam bawah pohon, dan lain lain (aku nggak ingat nama tempatnya, karena biasanya langsung makan aja hahaha). Selain itu, hal yang selalu keluarga kami lakukan kalau liburan ke Malang adalah berkunjung ke makam Eyang Kakung, ayah dari ayahku.

Setelah hampir 3 tahun tinggal di sana, sudah umurku untuk masuk TK. Tetapi, ditunda karena tenyata ayahku mendapat proyek di salah satu kota di Pulau Sulawesi. Jadilah, itu kali kedua kami pindah rumah.

Makassar

Kota tinggal yang ketiga adalah kota Makassar, Sulawesi Selatan. Saat tinggal di sini, aku sudah mulai bisa mengingat lebih detail karena umurku sudah semakin bertambah. Aku juga mulai sekolah di Taman Kanak-Kanak. Aku masih ingat dulu rumahku berada dekat dengan Bandara Sultan Hasanuddin dan TK ku berada di area TNI Angkatan Udara. Cukup jauh sepertinya jarak antara rumah dan TK. Karena waktu itu, aku harus diantar jemput naik bis oleh ibuku atau naik mobil dengan ayahku.

Aku ingat bagaimana aku mengeluhkan tayangan tv yang dijadwalkan terlalu malam karena di Makassar itu WITA, sedangkan TV memakai timezone WIB. Tapi di lain sisi aku senang karena sekolahku dimulai cukup siang, jam 8 pagi hehehe. Aku ingat bagaimana panasnya tinggal di sana, karena dekat dengan laut. Juga ingat bagaimana enaknya makan Pisang Epe di pinggir Pantai Losari menjelang matahari tenggelam.

Pisang Epe Pantai Losari. Sumber: Google

Aku juga sempat bersekolah di Sekolah Dasar yang ada di dekat bandara. Kali ini jaraknya lebih dekat dari rumahku. Waktu SD, aku naik mobil antar jemput dengan teman-teman yang lain. Adikku juga mulai sekolah di TK berbarengan dengan aku yang masuk SD. Tapi TK adikku kali ini lebih dekat dari rumah, bukan TK yang sama denganku. Dia berangkat naik becak setiap pagi.

Ketika aku baru mau mulai mempelajari bahasa daerah sana dalam muatan lokal di kelas 2, kali itulah aku harus pindah lagi ke Pulau Jawa. Jadi aku hanya sempat merasakan SD di sana sampai kelas 2 caturwulan pertama.

Perpindahan rumah kali ini, cukup membekas kenangan repot dan sedihnya harus mninggalkan teman-teman masa kecil lagi. Aku ingat aku menangis menjelang hari kepindahan karena aku tau, mungkin aku nggak bisa lagi bertemu dengan teman-temanku di sini. Waktu itu, beres-beres rumah juga dibantu oleh bapak becak langganan adikku sekolah. Beliau menangis ketika sudah selesai beres-beres dan pamitan dengan keluargaku, terutama ketika pamitan dengan adikku. Menurut beliau, adikku adalah pelanggan termuda dan favoritnya sampai saat itu.

It’s always hard to say goodbye, but there is a ‘good’ in ‘goodbye’.

Yogyakarta

Di sini lah aku menetap sampai sekarang. Hal yang menjadi pertimbangan saat itu adalah aku dan adikku sudah mulai bersekolah, sangat repot mengurus kepindahan berkas dari sekolah lama ke baru. Jadilah kalaupun ayahku harus mengerjakan proyek di kota lain, kami tetap tinggal di Jogja. Semenjak itu, aku LDR dengan ayahku karena ayahku ternyata langsung mendapat proyek di Jakarta.

Aku melanjutkan sekolahku dari kelas 2. Aku masuk di pertengahan semester. Untungnya saja aku membawa surat pindah dari sekolah yang lama, jadi aku nggak harus menunggu tahun ajaran baru untuk masuk sekolah. Masa itu adalah masa-masa yang cukup sulit buatku untuk beradaptasi. Karena perbedaan bahasa, aku nggak cepat mendapatkan teman saat itu. Semua temanku memakai bahasa Jawa, sedangkan aku nggak mengerti sama sekali bahasa Jawa karena selama ini menggunakan bahasa Indonesia. Tiap aku mangajak berbicara dengan bahasa Indonesia, aku dikira sombong 🙁

Tapi semua itu cepat berlalu. Pelan-pelan aku mulai menguasai bahasa Jawa. Ya karena bahasa Jawa menajdi bahasa sehari-hari dan juga dipelajari di mata pelajaran sekolah. Aku lanjut SMP juga di sini sampai lulus kuliah. Dan sekarang bekerja juga masih di sini. Kata orang Jogja adalah kota yang nyaman. Aku setuju. Tapi mungkin terlalu nyaman untuk berkembang. Mungkin suatu saat aku akan mencoba bekerja di kota lain, entahlah. Jalani dulu saat ini.

Jogja memang istimewa, Jogja dan semua isinya. Aku bersyukur menetap lama di Jogja.

 

Nb: aku mau menuliskan tentang betapa indahnya kota-kota yang aku tinggali. Tapi apa daya, ingatan masa kecil belum kuat :”)

 

Luv,

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *