Slice of Life

Mimpi Anak-Anak

Kemarin Jumat aku ada acara di sebuah Sekolah Dasar di Yogyakarta. Ceritanya aku dan tim lagi bikin acara seminar tentang Dunia Penyiar Radio, sharing ke anak-anak SD (bukan aku pembicaranya yaa wkwk). Di sana ada sekitar 30-40 anak yang isinya campuran anak-anak kelas 1 sampai kelas 6.

Pas semua anak-anak mulai kumpul di satu ruangan, kerasa banget excitementnya. Mereka yang awalnya cuma kepo ada acara apa, eh terus ikutan duduk di dalem sampai selesai.

Nggak berapa lama ada satu hal yang bikin aku merenung. Ada waktu di mana pembicaranya tanya tuh ke anak-anak SDnya,”Semua punya cita-cita kan? Coba kakak pengen tau nih cita-citanya apa?”. Dan kebanyakan menjawab dengan profesi yang jadi top 3 di daftar impian anak-anak: Dokter, Polisi, Tentara. Mereka mengucapkannya dengan berani, yakin, dan semangat.

Aku yakin dulu waktu kecil kita juga kayak mereka.

Lalu aku mikir….

“Kenapa kita pas udah gede gini mau bermimpi aja nggak berani?”

KENAPA?

Kenapa? Apa karena ketika mulai dewasa kita mulai realistis? Merasa bahwa bermimpi besar itu adalah sesuatu yang nggak mungkin terjadi?

Oh iya, sebelum acara seminar ini terlaksana, aku sempet ketemu dengan guru pembimbing salah satu ekstrakurikuler mereka, sebut saja pak Budi. Aku diajak ngobrol sampai hampir 2 jam!

Selama hampir 2 jam ngobrol itu, Pak Budi yang banyak cerita. Pak Budi cerita tentang apa impian-impian beliau untuk sekolah tempat beliau mengajar. Semua yang diceritakan adalah mimpi-mimpi besar yang kalau terwujud pasti sangat mengangkat nama sekolah, tapi ketika sekarang dicetuskan kemungkinan besar langsung ditolak oleh guru lain dan kepala sekolah karena untuk mewujudkan mimpi besarnya itu jelas butuh modal yang sangat besar. Tapi Pak Budi yakin suatu saat akan terwujud.

Apakah Pak Budi menyerah karena kendala modal?

Nggak. Pak Budi terus mengusahakan cara-cara lain. Pak Budi terus mengadakan acara juga kerjasama-kerjasama dengan komunitas dan balai pendidikan yang berhubungan dengan impian beliau, mengusahakan jalan apapun yang mendekati tujuannya. Pak Budi percaya dengan mimpinya, mantap dengan tujuannya, dan mau mengerahkan tenaganya untuk mewujudkan hal yang bagi orang lain hanyalah khayalan belaka.

Mungkin dari melihat Pak Budi ini juga lah anak-anak tadi berani bermimpi besar. Mereka dimotivasi untuk selalu berani bermimpi.

Aku iri sama anak-anak. Mereka berani bermimpi besar, yakin gitu. Ya memang mereka tuh belum tau apa artinya realistis. Belum tau juga apa aja tantangan yang akan mereka hadapi untuk mewujudkan mimpi mereka. Belum juga merasakan ketika impian diri sendiri ternyata nggak cocok sama ekspektasi orang-orang di sekitar kita. Tapi kalau kita coba lihat Pak Budi?

Beliau jelas lebih dewasa daripada kita, tapi masih berani bermimpi besar. Lalu apa lagi yang kita takutkan?

Nggak salah kok kita bermimpi seperti cara anak-anak. Bermimpi besar seolah-olah nggak ada kendala yang menghalangi. Seperti apa yang dilakukan pak Budi dan anak-anak itu. Karena disadari atau nggak, ketika kita sudah mantap menetapkan satu tujuan, alam bawah kita akan selalu mengarah ke sana. Dan itu awal dari terwujudnya mimpi besar itu.

Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mewujudkannya?

Jadi coba sekarang renungkan dan tuliskan mimpi-mimpimu seolah-olah nggak ada kendala apapun.

Wish you luck!

Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu

-Andrea Hirata

Luv,

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *