Slice of Life

Hal Romantis dari Kenangan Masa Kecil

Some memories never fade.

Katanya, kenangan yang berharga itu nggak akan terlupakan sampai kapanpun. Ya aku setuju. Secara aku ini adalah manusia yang daya ingatnya memang agak-agak diragukan terutama untuk hal-hal yang udah lalu~

Nggak banyak yang bisa aku ingat tentang kenangan masa kecil. Bukan karena nggak berkesan, tapi memang aku merasa kemampuanku mengingat hal-hal jangka panjang itu kurang bagus. Bahkan kejadian-kejadian zaman kuliah aja aku udah sedikit ingetnya. Walaupun begitu, aku inget hal teromantis yang pernah dilakukan keluargaku saat aku masih kecil.

Sedikit cerita dulu ya, sejak kelas 2 SD aku mulai tinggal beda kota dengan ayahku. Ayahku harus kerja di kota lain dan kami nggak ikut pindah lagi karena aku dan adekku sudah mulai sekolah. Biar nggak repot pindah-pindah sekolah katanya.

Baca: Pengalaman Tinggal Berpindah-Pindah

Sejak saat itu, nggak bisa ketemu ayah setiap hari, nggak lagi merayakan ulang tahun sekeluarga, nggak ada namanya berangkat sekolah dianter ayah, dan masih banyak lagi kegiatan masa kecil yang skip dari kebersamaan sama ayah. Kebiasaan kami untuk tetap merasa dekat berganti, nggak seperti teman-teman yang lain.

Waktu itu, pas waku masih SD-SMP, teknologi belum semaju sekarang. Kami biasanya berkomunikasi via telepon. Belum bisa sering kirim foto karena handphone kami belum smartphone dan belum ada whatsapp atau line. Mulai bisa sering berbagi foto ketika muncul Facebook.

Ada hal yang kami lakukan untuk tetap merasakan kebersamaan selain berbicara lewat telepon, yaitu saling berkirim surat dan paket. Ayahku akan mengirimkan surat untuk kami. Bukan satu surat untuk aku, adekku, dan ibuku. Tapi satu surat untuk satu orang. Isi pesannya beda-beda, terasa sangat personal. Aku ingat ada haru yang tertahan tiap membuka surat dan membacanya perlahan. Kebanyakan isi suratnya adalah pesan-pesan. Supaya aku rajin belajar, menjadi anak baik, ibadah yang rajin, sehat selalu, dan segalanya. Aku masih ingat bagaimana bentuk tulisan ayahku, beliau suka menulis surat dengan tinta biru.

Aku ingat juga suatu ketika ayahku pengen membelikan sepatu untuk aku dan adekku, tapi waktu itu kami sudah lama nggak bertemu. Ketika teman lain berbelanja sepatu dicoba langsung ditemani oleh ayah ibunya, hal yang kami lakukan yaitu mengukur kaki kami masing-masing dengan penggaris supaya nanti sepatunya pas. Ketika paketnya datang, itu seperti kejutan karena belum pasti ukurannya pas dan belum tau sama sekali model sepatunya seperti apa. Berlaku juga dengan paket baju dan celana baru yang dikirimkan.

Walaupun begitu, telfon, surat, dan paket itu belum cukup. Bagian yang paling menyenangkan tetap adalah pertemuan. Aku sangat menunggu momen-momen terima rapor, yang berarti libur semester sudah dekat. Karena cuma di libur semester atau libur lebaran ada kemungkinan kami akan bertemu.

Sampai sekarang juga masih begitu (kecuali bagian surat dan paketnya).

Masih selalu menunggu nunggu pertemuan.

Luv,

 

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *