Grogi? Ingat untuk Bernapas!

Apakah kamu pernah merasa sangat grogi sebelum presentasi atau membawakan sebuah acara?

Bahkan setelah kamu sudah banyak latihan dan mempersiapkan semuanya dengan matang?

Apakah rasa grogi itu sangat menganggumu sampai mempengaruhi penampilanmu?

Salah satu faktor yang membuat banyak orang takut berbicara di depan umum bahkan jauh sebelum dimulai adalah rasa grogi. Takut merasa grogi lalu malu karena blank di depan. Dulu sebelum aku mulai belajar lebih tentang Public Speaking, aku pun merasa sangat terganggu dengan rasa grogi. Menurutku pada waktu itu, grogi adalah rasa yang muncul karena aku kurang siap dan grogi itu pula yang membuatku tidak yakin dengan penampilanku. Belakangan ini setelah beberapa kali diskusi dengan mentorku di kantor, akhirnya kami sepakat kalau rasa grogi itu sebenarnya adalah hal yang wajar dirasakan. Bahkan artis dan motivator papan atas pun merasakan grogi sebelum tampil walaupun sudah berkali-kali melakukannya. Rasa grogi memang seharusnya ada sebelum kita tampil di depan umum. Rasa grogi adalah tanda bahwa kamu siap tampil.

Aku sering ikutan mentorku mengisi kelas public speaking ke mana mana sampai akhirnya bisa punya kelas sendiri. Dan pertanyaan yang hampir selalu ada di setiap sesi training adalah “Kak, bagaimana cara menghilangkan rasa grogi?”. Mohon maaf sebelumnya kalau jawabannya mengecewakan, tapi grogi itu tidak bisa dihilangkan. Hehehe

Terus gimana dong?

Memang grogi itu tidak bisa dihilangkan karena pada dasarnya grogi itu adalah salah satu wujud emosi dari diri kita, hal natural yang muncul setiap kita akan melakukan sesuatu yang baru atau setiap kita merasa tertantang dan bersemangat akan suatu hal. Cara yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan rasa grogi itu. Cukup dikendalikan, tidak perlu dihilangkan. Nah tapi, sebelum mengendalikannya, terima lebih dulu rasa grogi itu, jangan disangkal. Terima kenyataan bahwa mungkin pikiran-pikiran ini muncul di otak kamu: “wah aku gemetaran ini karena grogi”, “waduh aku deg-degan banget nih. Grogi euy”, dan sebagainya. Setelah bisa menerima keadaan atau ya bisa dibilang kenyataan bahwa kamu sedang grogi, hal selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah buat dirimu nyaman.

Hal yang paling utama bisa membantu kamu merasa nyaman adalah bernapas!

Di bulan Maret lalu, aku harus mempertanggung jawabkan skripsiku di sidang pendadaran. Rasanya grogi banget, takut salah ngomong, dan dimarahin dosen penguji. Apalagi pas udah di dalam ruangan sidangnya, gilaaa. Walaupun sudah belajar dan mempersiapkan materi kurang lebih 6 bulan, semua hal-hal teknis juga udah dicek pokoknya aman semua, tapi rasa deg degannya malah semakin menjadi jadi. Karena mau kabur juga sudah nggak bisa, akhirnya aku mencoba untuk mempraktekkan teori teori tentang mengendalikan rasa grogi, ya bernapas itu. Ada yang namanya metode pernapasan 4-7-8 yang menurut penelitian disebut sebagai obat penenang alami untuk sistem saraf manusia”.

Aku duduk lalu tarik napas 4 detik, tahan sekitar 7 detik baru lepaskan pelan-pelan hitungan 8 detik. Aku ulang kayak gitu berkali-kali sampe merasa cukup tenang. Pas mengembuskan napas pelan-pelan itu, aku juga coba memasukkan hal-hal positif. Istilahnya menyemangati diri sendiri. Aku berulang kali ngomong di otak “Kamu bisa dit. Kamu kan udah nyiapin ini 6 bulan. Kamu udah belajar selama ini. Kamu pasti bisa. Semua lancar. Semua lancar”. Sounds silly, tapi cobalah. It helps mengurangi deg degan loh.

Setiap kali buka kelas pun aku merasakan hal yang sama. Grogi banget banget karena ya nggak tau kan suasana kelas baru akan seperti apa. Jadi sebelum orang-orang dateng dan masuk ke dalam kelas, aku selalu melakukan hal seperti di atas tadi. Dan ya selalu berhasil mengurangi rasa groginya.

Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan secara nggak sadar ketika grogi tampil di depan orang banyak adalah lupa bernapas.

Kamu merasa begitu nggak? Jadinya sesek waktu ngomong, artikulasi kurang jelas, ditambah lagi ya biasanya kecepatan berbicara jadi super cepat. Audiens jadi ngeh banget kalau kamu tuh grogi. Kredibilitasmu dipertanyakan deh. Waduh tatapan males dari audiens bikin kamu tambah grogi deh

Jadi sewaktu kita grogi, otak bekerja lebih keras dari biasanya sehingga membutuhkan asupan oksigen lebih banyak. Nah hal itu bikin napas menjadi pendek dan tersengal-sengal seperti orang habis lari keliling kampung. Makanya harus bernapas lebih dalam, butuh lebih banyak memasukkan oksigen istilahnya. Selain bikin napas lebih teratur, ritual tadi membantu tubuh kita merasa lebih nyaman dan rileks. Ketika kamu udah merasa lebih rileks, penampilan kamu akan lebih tenang, lebih enak diperhatikan.

Kalau kamu ada tips lain untuk mengurangi rasa grogi yang biasanya kamu lakukan? Share dong di kolom komentar ya 😀

Nah nggak ada lagi ya alasan takut ngomong di depan umum karena grogi. Ingat kalau grogi bisa dikendalikan. Ingat untuk bernapas!

with luv,

2 comments on “Grogi? Ingat untuk Bernapas!

  1. Entah ini tulisan dita yg keberapa yg aku baca , hhmmm menarik ,
    Tp aku paling suka sama tulisan yg 4,5 tahun Kuliah sia-sia atau apa yak , lupa aku
    .. tapi itu tulisan mirip dengan aku , hmmmm
    , tp aku dari jaman sekolah

    • Terima kasih mas sudah mampir untuk membaca! Hehehe seperti membaca cerita diri sendiri ya jadinya tulisan itu :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *