Makna dari Seporsi Seblak

Makna dari Seporsi Seblak

Beberapa hari lalu aku lagi main ke rumah temenku. Tiba-tiba ada chat masuk dari mama. Kurang lebih bunyinya begini,”mbak, di jalan pulang nggak ada yang jual seblak po? Dah lama ya nggak makan seblak, kayaknya enak”. Karena emang perjalanan dari rumah temenku ke rumahku itu nggak ada yang jual, aku jawab aja,”nggak ada ma”. Begitulah mamaku, sukanya kode kode. Aku sampai rumah malam itu, di meja makan mama nanya lagi,”mbak, di deket sini tu emang nggak ada seblak ya? mbok beli kalo ada”. Pengen banget ya kayaknya wkwk

Besoknya seharian kepikiran pulang kantor diusahain beli seblak karena mama segitu pengennya. Buka laptop, eh kepikiran beli seblak. Mau ke kamar mandi, eh kepikiran beli seblak lagi. Jalan ke meja temen kantor,eh kepikiran beli seblak terus. Ngeliat jam, makin kepikiran beli seblak :”)

Langsung deh pas udah jam pulang kantor, aku pulang sampe bela-belain muter-muter di daerah kantor nyari seblak yang pas dah nemu, eh tutup. Akhirnya nemu juga yang sejalan pulang dan masih buka. Di dompet cuma ada uang 10 ribu rupiah waktu itu plus 2 ribuan yaa 3 atau 4 gitu karena gajinya secara cash dan ya nggak dibawa semua kan :”) Pesen seblaknya cuma bisa 1 porsi deh jadinya, ya udah bisa dimakan berdua lah biar mesra. Satu porsi seblak original + makaroni + bakso. Nyam!

Aku nggak peduli walaupun ntar jadi nggak punya uang pegangan di dompet kalau beli seblak (padahal waktu itu ya sebenernya bensin mepet). Di otak tu cuma ada 1 pikiran aja, kapan lagi? Selagi bisa ya maunya bisa bahagiain mama walaupun cuma dengan seporsi seblak.

Ada yang pernah kayak gitu juga? Mementingkan kebagaiaan orang lain daripada kepentingan sendiri?

Katanya kalau tentang cinta mah gitu~

Kebayang nggak sih, sudah berapa kali orang tua kita itu berlaku seperti itu ke kita? Dari kita bayi, sampai segede sekarang ini. Mereka selalu begitu kan, mementingkan kebahagiaan kita daripada kepentingan mereka sendiri. Pasti banyak yang sering menyadari ya kan. Di rumah misalnya orang tua lebih memilih untuk nggak makan lauk yang tersisa biar kita aja yang makan. Atau rela begadang untuk menunggui anak-anaknya yang sedang sakit. Atau rela bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal sekolah anak-anaknya. Itu baru beberapa contoh dari banyak hal yang aku yakin sering dilakukan, karena bagi mereka kita lebih penting daripada hidupnya sendiri.

Seiring bertambah dewasanya kita memahami orang tua kita, memahami bagaimana mereka memperlakukan kita dengan sebegitunya, rasa ingin berlaku yang sama pasti semakin bertambah. Ingin membalas hal-hal baik yang sudah diberikan ke kita, walaupun nggak akan sesempurna mereka, tapi seenggaknya sudah berusaha memberikan segala yang kita punya. Apalagi ketika kita sudah mulai bekerja dan mempunyai gaji sendiri, rasanya ingin membelikan ini itu sebagai hadiah karena sudah sabar mengahadapi kita selama ini.

Buat aku, ada rasa nyess di hati yang susah dijelaskan saat melihat ekspresi mama yang membukakan pintu sesampainya aku di rumah dan tau aku bawa sesuatu buat mama. Ekspresi itu adalah yang kuharap bisa sesering mungkin aku lihat. Selagi masih bisa, masih diberi kesempatan. Walaupun dengan hal-hal yang tidak pricey seperti seporsi seblak, tapi yang penting maknanya. Mama pasti paham bahwa sesuatu yang membuat bahagia itu bukan selalu tentang uang, bukan selalu tentang seberapa mahal harganya.

Malam itu, kami makan seblak satu porsi untuk bertiga (ditambah dengan adek sepupu yang ikut nyemilin). Melihat aku dan adek sepupuku yang makan dengan lahap, mama malah mengalah dengan makan sedikit lalu membiarkan kami menghabiskannya. Kan, baru saja aku merasa berkorban, ternyata masih belum apa-apa dibanding mama. Wah.

 

Jangan lupa bahagia!

Luv,

Andita

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.