4,5 Tahun yang Sia-Sia

4,5 Tahun yang Sia-Sia

4 tahun lebih belajar di jurusan teknik terus habis lulus nggak bekerja sebagai engineer, nggak sia-sia tuh waktunya?

Pertanyaan itu sering banget ditanyakan sama orang-orang setelah menerima jawaban kalau aku bekerja tidak di bidang yang sama dengan apa yang aku pelajari waktu kuliah. Ada yang sama juga kayak aku gini? Sering dapet pertanyaan begitu? Kalau kamu jawab gimana? Biasanya aku cuma senyum terus berlalu aja kalau lagi males jawabnya hehehe

Nah, aku akan mencoba menjawab panjang lebar di sini. Semoga menjawab rasa penasaran kamu ya! 😀

Untuk menjawab pertanyaan ini, di awal tulisan aku bakal jujur kalau keinginan untuk mendalami bidang ilmu komunikasi itu sudah ada dari SMA. Karena satu dan dua hal keajaiban waktu lulus SMA, akhirnya aku kuliah di jurusan Teknik Perminyakan. Padahal aku sama sekali nggak mau teknik karena aku sadar diri aku lemah di hitungan.

“Lah kok gitu? Terus selama ini kuliah nyatanya sampe lulus tuh?”

Ya nggak banyak yang tau kalau aku sempet kepikiran untuk nggak melanjutkan dan mencoba daftar jurusan ilmu komunikasi. Tapi aku bertahan dengan pernyataan “udah sampai sini, lanjutin. Kamu tuh bisa”. Ya nggak banyak orang yang tau gimana terseoknya aku di jurusan ini, tapi nggak terseok parah sih kalau dipikir-pikir. Aku masih bisa mengikuti beberapa mata kuliah yang teori aja nggak ada hitungan, meskipun di mata kuliah hitungan nilaiku paling bagus adalah C+. Aku juga cukup mencintai berada di lingkungan jurusanku. Aku masih aktif di beberapa organisasi dan acara-acara jurusan, juga aktif ikut lomba. Aku tetap menyelesaikan kuliahku karena ini juga bentuk tanggung jawabku ke orang tua. Tapi seberapa besar aku menikmati kuliah di jurusan ini, aku tetap merasa kalau aku seharusnya nggak di sini.

“Nyesel nggak tuh 4,5 tahun kuliah ilmunya nggak kepake di dunia kerja?”

NYESEL BANGET.

Nyesel banget kalau dulu nggak ambil kesempatan kuliah di jurusan ini. Dan siapa bilang ilmunya nggak kepake? 🙂

Ada 3 hal utama yang membuat aku bersyukur aku sempat mengambil jalan yang sedikit berbelok dari apa yang aku inginkan:

  1. Aku mendapat teman, ilmu, dan banyaaaak pengalaman baru yang membuat aku menjadi aku yang sekarang. Dari teman-teman yang aku kenal di kampus aku mendapat banyak pandangan baru tentang apapun. Obrolan sesederhana apapun ada yang bisa jadi ilmu baru yang bermanfaat di kemudian hari, nggak selamanya orolan receh nggak berfaedah. Dengan teman-teman ini juga aku punya banyak pengalaman berorganisasi, lomba, membuat event dengan budget ratusan juta, jadi budak tugas dan laporan praktikum, juga pengalaman lain yang membentuk mental pantang menyerah dan banyak ilmu bertahan hidup di kerasnya dunia ini. Teman-teman yang berharga seperti sebuah keluarga. Kalau aku nggak kuliah di sini, mungkin aku nggak akan dapet hal-hal ini kan?
  2. Jadi lebih kenal diri sendiri.  Selama kuliah aku ikut beberapa organisasi sejak jadi mahasiswa baru. Selama 3 tahun jatah ikut organisasi itu, aku dapet kesempatan untuk gabung di divisi yang beda-beda. Pernah jadi sekretaris, divisi advokasi, divisi HRD, dan divisi Hubungan Masyarakat. Dari kesempatan-kesempatan itu aku belajar mengenali potensiku sebenernya di mana, hal apa yang paling senang aku kerjakan, bagaimana tipe kerjaku, sampai ke lingkungan kerja seperti apa yang cocok untuk aku. Ternyata mengenal diri sendiri memang butuh proses. Mungkin setiap orang beda-beda dalam berproses dan dengan di sinilah aku dikasih kesempatan untuk lebih mengenal potensi diri sendiri.
  3. Mampu mendorong diri sendiri menembus limit. Mungkin batasanku adalah susah memahami angka-angka padahal mayoritas mata kuliah adalah tentang angka. Apalagi waktu di akhir kuiliah, zaman skripsian. Aduh rasanya dah mau nyerah sih, tapi nanggung udah mau sampai garis finish. Dengan sisa-sisa keyakinan dalam diri, akhirnya di satu titik aku mengubah pola pikirku. Awalnya aku selalu bilang ke diri sendiri,”aduh susah. bisa nggak sih skip aja? nggak usah diselesaikan”. Setelah mengalami dialog dengan diri sendiri yang cukup lama, akhirnya aku sadar kalau menunda menyelesaikan sama dengan menunda aku belajar hal yang aku sukai, Ya akhirnya aku memilih untuk menembus batas itu. Aku memilih untuk memaksa diriku berhadapan dengan angka-angka itu sampai bisa dinyatakan lulus.

Nah jadi 4,5 tahun yang sia-sia itu kalau aku sampai lulus belum tau potensiku dan mau mengambil jalan ke mana setelah jadi sarjana. Selama aku kuliah ini adalah waktu aku explore potensi diri sendiri, jadi jawabannya aku nggak salah jurusan dan nggak menyesal sudah menjalani sekian tahun walaupun akhirnya nggak bekerja sebagai engineer. Segala hal itu tinggal bagaimana pola pikir kita. Salah jurusan? Bukan. Ini kesempatan untuk belajar hal lain sebelum belajar mengejar hal yang benar-benar diinginkan. Coba bayangkan kalau sedari awal aku nggak mengambil keajaiban untuk kuliah di jurusan ini, aku akan terus berada di zona nyaman dan nggak akan seyakin ini tentang apa yang aku mau sebenarnya. Biasanya karir seorang mahasiswa dari jurusan tertentu sudah ada jalurnya menjadi ini itu ketika lulus. Keputusan besar yang aku ambil tahun ini untuk akhirnya berani mengambil langkah yang berbeda dari teman-teman yang lain. Kalau ditanya masih mau kerja di perminyakan? Masih dong. Tapi nggak sebagai engineer hehehe

Kalau kamu juga sedang merasa salah jurusan, jangan menyerah dan jadi malas. Justru selesaikan dengan baik dan secepat yang kamu bisa, lalu nikmati masa-masa akhirnya kamu bisa mengejar apa yang kamu mau! Semangat!

Semoga sukses di jalan kita masing-masing 🙂

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.